![]() |
Aliansi BEM Purwakarta berunjukrasa didepan gedung DPRD Purwakarta |
PURWAKARTA - Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Purwakarta berunjukrasa ke gedung DPRD Purwakarta, di Jl. Ir. H. Juanda, Ciganea, Jatiluhur, Jumat sore (21/02/2025).
Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan negeri dan swasta di Kabupaten Purwakarta tiba didepan gedung DPRD Purwakarta pukul 17.07 Wib. Sebelum diperkenankan memasuki area gedung wakil rakyat, para mahasiswa mengadakan orasi dan sempat membakar ban bekas.
Sempat bersitegang ketika dua pimpinan DPRD Purwakarta yakni Wakil Ketua I DPRD Dias Rukmana Praja dan Wakil Ketua III DPRD H. Entis Sutisna menemui mahasiswa.
Kehadiran dua pimpinan DPRD Purwakarta itu semula ditolak karena mereka (Mahasiswa) hanya mau diterima oleh Ketua DPRD, Sri Puji Utami.
Namun setelah Ketua DPRD Sri Puji Utami yang sedang dalam perjalanan ke Jakarta berdialog dengan mahasiswa melalui sambungan telepon dan meyakinkan bahwa dua pimpinan DPRD Purwakarta yang mewakili dirinya akan mengakomodir yang menjadi aspirasi para mahasiswa.
Pada pukul 18.04 Wib. akhirnya para mahasiswa bersedia berdialog dan menyampaikan aspirasinya dengan kedua pimpinan dewan dan menyampaikan sejumlah tuntutan agar disampaikan ke lembaga DPR RI di Jakarta.
![]() |
Pimpinan DPRD Purwakarta sedang menandatangani draft tuntutan mahasiswa untuk disampaikan ke DPR RI disaksikan para mahasiswa. |
Koordinator Aliansi BEM Purwakarta, Shela Amelia dalam siaran pers yang diterima awak media menyatakan, “Indonesia tengah berada dalam kegelapan. Pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru menjauhkan diri dari amanat konstitusi dan cita-cita kemerdekaan. Kebijakan demi kebijakan dilahirkan bukan untuk mensejahterakan, melainkan menindas. Rakyat kecil dibiarkan bergulat dengan kesulitan, sementara kekuasaan terus berpihak pada elit, kapitalis, dan kepentingan asing,”kata Shela Amelia.
Menurutnya, kegelapan ini menyelimuti semua aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, bahkan ruang demokrasi kian dipersempit.
“Pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah melahirkan kebijakan yang mencederai hak-hak rakyat, mulai dari pemangkasan anggaran pendidikan hingga melanggengkan eksploitasi sumber daya manusia dan alam demi keuntungan segelintir pihak,” ujar Shela.
Oleh karena itu, Aliansi BEM Purwakarta menuntut;
1. Cabut instruksi presiden nomor 1 tahun 2025 terkait efisiensi anggaran yang tidak berpihak pada rakyat
2. Kembalikan anggaran pedidikan kepagu awal, naikkan anggaran pendidikan terutama dana operasional PTN-BH, PTS, dan Beasiswa!
3. Perluas akses pendidikan tinggi kepada anak kelas buruh dan kaum tani yang selama ini dihalangi oleh biaya pendidikan yang tinggi!
4. Realisasikan anggaran tukin dosen!
5. Evaluasi total program Makan Bergizi Gratis!
6. Efisiensi dan rombak kabinet Merah Putih!
7. Hapuskan multi fungsi ABRI! Karena keterlibatan militer dalam sektor sipil berpotensi menciptakan represi dan menghambat kehidupan yang demokratis.
8. Mendesak Presiden untuk mengeluarkan peraturan pemerintahan pengganti UU perampasan aset!
“Kami menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Pemotongan anggaran pendidikan, pengabaian kesejahteraan tenaga pendidik, hingga privatisasi pendidikan adalah serangkaian bukti bahwa negara telah gagal menjalankan tanggung jawabnya untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tambah Shela.
Setelah dua pimpinan DPRD Purwakarta bersedia menandatangani tuntutan para mahasiswa yang telah disiapkan oleh mereka untuk diteruskan ke DPR RI, tepat pukul 19.00 Wib para mahasiswa membubarkan diri dari gedung DPRD Purwakarta. (Humas Setwan)